Selasa, 23 Agustus 2011

Ketidakberdayaanku

Aku bukan orang yang istimewa. juga bukan pula orang yang menarik. Aku mulai mengenalnya dua tahun yang lalu. Disaat aku belum mengenal orang yang kini disampingku. Ku panggil dia dengan sebutan "Mas" karena dia kakak kelasku. Pertama kali aku melihatnya, tak ada satu pun ketertarikan diriku padanya. Aku hanya menganggapnya kakak kelasku. Aku memang dikenal oleh mereka semua karena aku ini orang yang cerewet dan aktif. sebut saja dia "FB". Aku tidak tahu apapun tentang dirinya, kehidupannya, perilakunya, dan tentang percintaanya. Namun yang aku saat itu adalah dia orang yang dewasa, bijaksana, dan kebapak-bapakan. Karena saat itu aku sedang jatuh cinta pada temannya, bukan padanya.
Bergulirnya waktu, tak terasa kini aku sudah berada di puncak SMA. Dan sudah tak nampak lagi batang hidungnya dan teman-temannya. Namun bukan diriku bila aku tidak menghubungi mereka. Hanya sekedar untuk bertanya,"Apakah kalian punya buku ini itu, bla bla bla?" Dan pesan itu juga aku kirim kepadanya. Tak lama berselang, dia membalasnya," Wah sori dek aku gak punya." Kecewa deh aku sama balasan mereka semua. Dasar kakak kelas yang tidak memberi contoh baik.
Keesokan harinya, secara tiba-tiba dia sms, bilang ," Kamu mau ta buku soal-soal SNMPTN?" Dengan senang hati aku menerimanya. Dan mulailah saat itu kami berkiriman sms. Lama berselang, hari yang ku tunggu datang. Hari dimana aku ketemu dia dan dia ngasih buku itu ke aku. Bulan puasa yang panas. Saat itu aku di SSC. N=Entah kenapa rasanya hatiku cenat-cenut. Resah dan nervous. Tolol. Sangat-sangat tolol. Ada apa ini... Kenapa aku jadi seperti ini?? Bertanya-tanya pada hati yang tak menentu malah membuatku kerkeringat dingin. Namun, apa yang aku dapatkan, dia lupa. Dia nggak datang. Dia membuatku kecewa, marah, dsb. Andai dia tau, aku berdandan cantik hari itu. Aku ingin bisa bertemu dengannya. Yang entah kenapa seperti ada rasa. Aku marah-marah. Aku sebel banget. Menunggu 1 jam itu sudah amat sangat membosankan bagiku. Tuhan, kalau saja ini bukan bulan puasa, sudah habis dia ditanganku. hahahahaha bercanda.
Dia meminta maaf padaku. Tadinya nggak mau maafin, tapi melihat dia benar-benar menyesal, jadi dimaafin deh. Dan, semuanya berlanjut....
Beberapa hari sebelum buber generasi, aku mengirim SMS untuknya, hanya untuk menanyakan apa dia datang atau tidak. Beruntungnya dia datang. Aku juga ingin datang tapi saat itu aku bingung harus naik apa. Aku bertanya padanya, namun dia hanya menjawab enteng dan bercanda. Aku sedang serius, apa kau tidak melihatnya... Kesal dalam hati. Dan akhirnya aku memutuskan untuk datang bersama temanku, Edo. Tanpa disangka-sangka ketika ada sebuah pembicaraan yang rahasia, membawaku pada dunia imajinasiku terdahulu. Saat aku ingin sekali bisa naik mobilnya dan melihat apa-apa di dalam mobilnya. Sungguh mengasikkan bukan kalu itu terjadi. Dan, semua menjadi nyata saat dia memberikan tumpangan itu ke aku. Hem.... Kenapa nggak daritadi sih mas bilangnya?? Runtukku dalam hati. Tapi nggak papa deh, yang penting aku bisa ngeliat wajahnya yang sudah lama aku bayangkan seperti apa dia sekarang. Ternyata sama saja. hahaha tolol, idiot, begok.
Di hari H, dia bingung dimana rumahku. Ah.. begok. Aku ini sudah merepotkan orang, juga membuat bingung pisan. ckckck... Akhirnya kita janjian untuk bertemu di depan gang saja. Lho, kok nomor platnya sudah ganti? bener gak ya ini mobilnya. nanti malah salah masuk, berabe atuuh. Aku mikir dalam hati. Eh ternyata bener itu dia. Dan dia juga menepati janjinya memakai baju pink. lebih tepatnya kemeja pink. Ah unyu banget. ahahahha...
Dingin, dingin sekali AC di dalam mobilnya. Membuatku ingin mengambil selimut lalu tidur. Di dalam mobilnya hanya ada aku dan dia. Tidak. Tuhan, tolong jangan sampai dia mendengar degup jantungku. Aku harus apa. Aku takut salah tingkah. Dan akhirnya aku mengambil jalan diam dan melihat jalan saja. Tuhan, apa dia juga merasa seperti itu? Apa hanya aku saja yang ge-er?? Semakin dingin saja AC ini. Untuk mencairkannya, aku berbasa-basi tidak jelas. Kenapa dia begitu berbeda saat aku lebih dekat dengannya sekarang??? Aku bingung. Aku takut salah jalan.
Aku mencuri-curi pandang ke arahnya. Hanya untuk melihat dia. Kok jadi gini ya... Haduh pipiku merah merona. Kenapa aku jadi salah tingkah tiap dia liat aku??? Tidaaaakkk.....
Dan kami pun sampai di tempat tujuan. Dia takut kalau nanti teman-temannya melihat kita berdua. Jadi, aku berjalan mendahuluinya dan berpura-pura tidak datang bersamanya. Dia begitu asik dengan teman-temannya, dan sekali lagi, aku melihat ke arahnya. Senyum-senyum sendiri aja deh. Aku nggak kuat lagi. Ada apa ini...
Hari telah malam, dan jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, saatnya pulang. Kembali lagi kami berpura-pura tidak mertegur sapa. Ah.. kenapa haruus seperti ini sih? Kenapa gak biasa aja. Biarin aja mereka tau. nggak akan mengubah apapun juga. Pikirku dalam hati. Tapi ya sudahlah, aku bukan siapa-siapa. Kepala pening dan rasa kantukpun mulai datang. Aku tertidur sebentar. Aku tidak tau apa dia memerhatikanku atau tidak. Aku lelah. Dan, ketika perjalanan baru menginjak setengahnya, dia mulai bertanya tentang rahasi aitu. Perbincangan rahasia dan aku pun juga bertanya tentang rahasia itu. Apa alasannya? Kenapa harus aku? ini itu semuanya. Dan, pengalaman itupun terjadi.
Ruangan dingin itu pun menjadi hangat seketika.
Aku bingung. Aku benar-benar bingung.
Apakah aku suka padanya? Atau bahkan lebih?
Dan aku mengetahui jawabannya beberapa hari kemudian. Dan, seketika itu aku lemas, tak berdaya. Tuhan, seperti inikah patah hati? Sakit sekali. Menangispun tidak akan berhenti begitu saja. Kenapa aku punya rasa seperti ini ketika aku sudah punya seseorang? Dan kenapa dia tega bilang seperti itu juga ke aku? Jahaaatt.
Aku selalu berharap semua ini bisa berakhir dengan happy ending. Tapi aku mungkin hanya bermimpi.
Tuhan, beritau dia, kalau aku punya rasa itu. Kenapa dia bilang tidak??
Mungkin ini semua salah.




Rabu, 18 Mei 2011

Kesalahanku

Hari itu, tanggal 17 Mei 2011. Aku seperti tak punya beban hidup. Terlalu santai aku menapakkan kakiku di teras rumah. Tak ada seorang pun yang ada ketika aku sedang sendiri. Malam itu, tak pernah terlintas di fikiranku akan terjadi sesuatu hal terhadap orang tuaku. Ketika mereka sampai di rumah, dengan acuhnya aku tak peduli dan kembali ke kamar. Ibuku datang, masuk dan membuka pintu kamar, lalu berkata," Tadi mobilnya kecelakaan di Krian." Bagaikan mendengar suara bom di telingaku. Aku linglung. Kok jadi begini. Dengan sekasama, aku mendengar cerita ibuku. Lalu beliau keluar kamar, meninggalkan aku sendiri dengan beribu-ribu tanda tanya.
Dan malam pun menjadi semakin larut, bukan oleh sinaran bulan di kala itu, tapi oleh tangisan yang membuat hati ini rintih. Aku membayangkan bila tiba-tiba dan tanpa adanya sebuah mimpi, aku harus kehilangan kedua orang tuaku. Apa jadinya aku bila semua ini harus berakhir. Aku lantas berfikir, sudah sejauh apa yang telah aku beri untuk mereka. Sebuah kebanggaan kah?? Itu masih menjadi satu mimpi yang belum terwujudkan.
Belum juga rasa itu hilang, keesokan paginya, yakni tanggal 18 Mei 2011 di sekolah..
Aku belum siap 1 bahan pun untuk ku jadikan pegangan diri ketika suara bel itu telah berbunyi. Datanglah seorang guru yang sangat menakutkanku. Mungkin bukan cuma aku, tapi selauruh penjuru kelas ini. Dengan tergopoh-gopoh aku menyiapkan segala keperluan untuk ujian. Hari itu adalah ulangan biologi. Ya, kau benar. Pelajaran yang harus bisa ku pelajari dengan matang bila impian itu ingin ku wujudkan. Dokter. Ap harus menjadi dokter?? Aku pun tak tau harus menjadi apa bila aku tidak menjadi seorang dokter.
Pagi yang menenangkan, sebelum saat itu tiba.
Ibu guru itu datang menghampiriku, membentakku dengan seribu nyawa setan. Aku mendadak bingung. Aku benar-benar ceroboh. Saat hari tenang itu, aku melihat selembar kertas yang bertuliskan nama-nama penyakit akibat merokok. Aku gagap seketika.
Beliau menyuruhku ke depan, memarahiku dengan segala apa yang dia bisa keluarkan. Aku takut Tuhan. Aku bingung. Aku hanya bisa terdiam. Ingin menangis pun tak bisa ku lakukan. Dengan semua yang ada di kepalau, aku berjuang untuk bisa melanjutkan ujian saat itu. Namun, sanksi yang diberika adalah membuat semua nilai ulanganku jeblok.
Bagaimana ini??? Aku salah. Aku bodoh. Aku idiot. Aku ceroboh. Aku... aku hanya bisa mengerjakan di sisa-sisa akhir waktuku.
Ibu, ayah, bila hal ini akan membuat mu bersedih, maafkanlah anakmu.
Bila aku tak bisa menjadi seorang yang engkau banggakan, maafkanlah aku.
Waktu yang terus berjalan, seolah tidak ada guna. Aku hanya bisa terdiam seperti manusia tanpa daya dan nyawa. Aku malu untuk menangis. Aku malu untuk bisa melihat teman-temanku.

Dan, akhirnya bendungan ini jedol.
Aku menangis ketika aku bilang kapada seorang temanku," Aku.. aku udah nggak ingin jadi dokter Fit." dan dia pun bertanya," Lho kenapa? udah lah Li, ngak usah difikirin. Ibunya kan emang gitu. Kamu nggak liat Fida, Mirza yang dulu juga digituin." ucapnya sambil menenangkanku.
Tapi, bukan ucapan yang keluar dari mulutku, namun air mata yang seolah tak bisa lagi terbendung di mataku. Aku bodoh. Aku sangat menyesal Tuhan. Aku nggak sanggup bila harus menerima hasil itu dengan sebuah nilai 0 di rapotku. Apa yang harus aku jelaskan nanti pada mereka???
Apaaaaa????
Hanya sebuah lagu lama, meminta maaf begitukah??
Akhirnya, aku berfikir untuk mengakhiri hidup ini. Mungkin, dengan aku bisa mati, aku tidak harus mengerjakan PR, tidak harus bertemu dengan guru-guru killer, tidak akan dimara bila aku salah, tidak akan merasa kecewa bila ada orang yang kecewa padaku.

Tapi, kenapa aku nggak boleh?????
kenapa semua itu DOSA???
Kenapa Tuhan???

Bila aku bisa memutar kembali waktu, aku pasti akan merubah keadaan ini.
Tapi aku bukan seorang yang berarti apa-apa.
Aku hanya manusia yang berlumur dosaaa...

Mengapa Engkau mengirimkan beribu-ribu orang yang menyanyangiku???
Aku nggak ingin melihat mereka menangis.
Aku sangat menyesal ya ALLAH.........

Apa yang harus aku lakukan?
Menyakiti diriku sendiri dengan tidak makan seharian?
Tidak akan membuatku mati.

Aku hanya ingin semua ini bisa kembali seperti dulu.
Saat aku masih belum bisa membaca.
Saat aku masih belum bisa menulis.
Saat aku belum bisa bercita-cia menjadi seorang dokter.

YA ALLAH, aku tak bisa menceritakan semua ini pada orang tuaku.
Aku terlalu takut untuk itu.

Ya Allah, berilah 1 keajaiban agar Kau bisa membuat ibu guru ku memaafkanku.
Aku hanya ingin itu.
Aku hanya ingin itu.

Jumat, 04 Maret 2011

My Sweet Seventeen

Hari itu adalah tanggal 3 Maret 2011
Hari dimana aku dilahirkan ke bumi ini. Melihat semua isi dunia yang sempurna penuh warna.
Pukul setengah 5 pagi, aku bangun. Telah ada 3 sms yang nampang di layar.
"Selamat Ulang Tahun Cecilia Ayu Damayanti........"
Terima kasih ya Allah, Kau memberiku hari ini. Hari ini aku akan menjalaninya dengan suka cita.
Setelah sampai di sekolah, anak-anak banyak yang ngucapin selamat ulang tahun. Seperti sama dengan tahun-tahun lalu. Tidak ada yang spesial dari tahun ini. Hanya ada angka 17 saja di dalamnya. 

Aku tidak tahu kenapa rasanya bosan sekali hari itu. Tidak ada yang istimewa. 
Di istirahat pertama, aku langsung terjun ke bawah untuk mengamnbil macaroni scottle dari mama. Ini adalah makanan traktiran dari aku untuk anak-anak. Nggak cukup itu saja, aku juga beli 29 teh pocy buat mereka semua. Aku seneng banget waktu ngeliat anak-anak lahap banget maem scottle-nya. hahahahha... Rasa banggapun datang. Makasih mama, mama hebat banget.

sms yang masuk bertubi-tubi datang dari teman-temanku. Ternyata mereka semua masih inget sama ultahku. Aku pikir udah pada lupa. Kenapa hari ini begitu lama? Sahabat-sahabatku juga pada meng-geje semua. Gila nggak waras. Tapi itu udah biasa. Aku mulai curiga ketika aku melihat ada 1 kresek putih di bawah lantai, dekat dengan tasnya si Fitri, apa itu kado ya?? Hem.. cuma mimpi kali ya dapet kado dari orang. Dan, apa yang terjadi selanjutnya...............

Surprise..............
Sekolah telah usai, dan inilah saatnya para anak buahnya Satria, guru TIK, seseorang yang istimewa, datang..... Mereka, anak-anak semua itu ternyata sudah tahu kalau akan ada ini semua. Datanglah, sesosok orang berpakaian kemeja masuk membawa kue dari Dapur Chocolate yang aku tahu itu gede banget. 20x40 cm. Di kue itu ada tulisannya, " Selamat Ulang Thun yang ke-17." 
Aku shock, kaget, nggak nyangka, dll. Aku bingung mau bilang apa. Nggak tahu harus gimana. Aku seneng banget. Banget. Ini ulang tahun terindah dalam hidupku. Potongan pertama, untuk Satria. Dan selanjutnya, udah pada sibuk diabisin sama anak-anak. Dasar maruk semua. 

Taraaaaaaaa.....
Ternyata nggak cuma itu, Fitri, Isma, Neny, Indi,Amalia juga punya kejutan. Kado yang udah buat aku penasaran itu ternyata memang buat aku. Makasih buat kalian... muuuaachhh...
Pulang sekolah, aku pergi ke delta sama Sat, buat nraktir dia maem di Master D. Terus pergi ke J.CO buat beli donat untuk anak-anak YPIA.Waktu udah nunjukin pukul 5 sore. Lantas kami langsung menuju ke YPIA. Pukul setengah 7 malam, surpriseee..... 
Anak-anak YPIA juga ucapin met ultah ke aku. Kami makan donat bareng-bareng. Seru banget rasanya. 

Sepulang dari YPIA, Satria nggak aku bolehin pulang dulu. 
Aku masuk ke rumah, eh ternyata ada pacarnya mbak Dita. Mas Yana juga ucapin met ultah buat aku. Ini mana sih kok nggak ada kado lagi?? ahahhaha.. (ngarep banget). Aku langsung mandi, dan segera bergabung dengan yang lainnya. "Mama kok nggak ada acara tiup lilin sih? Lia kan pengen tiup lilin." itu adalah ungkapan dalam hatiku. Ternyata, aku membuat seatu kebodohan. Kebodohan di hari ulang tahunku. Aku ngejek Satria. Diaq marah banget. Dan mulai bersikap dingin. Aku saat itu nggak ngerti kenapa dia jadi dingin. 

Kian malam, dan dia memutuskan untuk pulang. Aku mengiringi kepulangannya dengan cemberut. Kok jadi gini sih acaraku? Aku masuk ke kamar berniat untuk tidur. Karena aku rasa sudah ada yang bisa untuk diajak bicara. Membosankan. Memuakkan. Namun, tak begitu lama kemudian, mama masuk kamar. Meminta maaf dengan tangis air mata."Lia, maaf ya. Mama nggak berniat bikin kayak gini. Mama malu, sungkan sama Satria. Dia bawa kue segitu gedenya,tapi mama cuma punya 1 kue tart kecil. Nggak sebanding sama punya Satria. Maaf ya. Ini kado buat kamu. Semoga kamu jadi anak yang pintar, berguna, bisa banggain mama papa, semuanya bisa terwujud. Maaf ya Lia. Mama nggak bermaksud buat Satria nunggu lama dan marah."
"Nggak papa kok mah. Dia nggak marah. Dia juga nggak peduli mau kue punya mama seberapa. Mama nggak perlu sungkan.Makasih mah." dan linangan air mataku pun tak dapat aku hentikan. Begitu dalam dan menyesakkan. Sakit. Begitu sakit, hingga aku tertidur pulas dengan air mataku.


Hari berganti, dan di keesokkan harinya aku berkata," Aku pengen tiup lilin mah." Mama bingung. dan langung mengambil kue tart kecilnya. Diatasnya ada lilin berbentuk angka 17. Ketika dinyalakan, dan aku berharap dalam hati. Harapan yang nggak akan pernah pudar. Terus berharap. Semoga aku bisa mewujudkannya. Amin. Kamera, jepret-jepret, Dita mengambil fotoku ketika aku tiup lilinku di tanggal 4 Maret ini. Tidak ada masalah buatku, yang terpenting adalah bagaimana aku bisa memaknai bertambahnya usiaku dengan sebuah kedewasaan dan tanggung jawab. Terima kasih untuk semua kado-kadonya mah, kak, dek, teman-teman semua.Makasih kalian semua masih sayang dan peduli sama aku.
Aku kira semua ini akan berakhir begitu saja, tapi ternyata belum.
Pertengkaranku dengannya kemarin belum usai. Kami saling bicara dan aku terus meminta maaf. Dia marah. Aku takut. Ingin menangis. Tapi nggak ada guna. Aku tatap dia, berusaha berbicara dan meyakinkannya kalau aku nggak akan ulangi lagi sikapku itu. Dan, dia tersenyum. Senyumannya yang aku tunggu-tunggu.
Kami berbaikan kembali.
Dan semua telah berakhir dengan bahagia.


Ya Allah, semoga ini semua adalah kenangan terindah untukku selama SMA. Bersama mereka semua, aku bisa menjadi diriku apa adanya. Bersama mereka aku tahu, bahwa aku tidak bisa hidup tanpa kawan, sahabat, keluarga, dan cinta.


SELAMAT ULANG TAHUN CECILIA AYU DAMAYANTI YANG KE-17.......

Senin, 13 Desember 2010

Kisah seorang murid dan guru

Kenalin, namaku Insasti dan kini aku sedang duduk di kelas 11 sebuah SMA negeri favorit di Surabaya. Kehadiranku yang baru memasuki awal pelajaran baru ini membuatku sedikit cemas. Karena aku masih merasakan sakitnya putus cinta. Sebelum ini, aku memiliki sebuah kisah tragis yang memilukan. Karena akulah yang berada dalam kisah itu. Namun kini, aku melupakannya. Aku berusaha bangkit dan bersikap biasa saja dengan dirinya. Aku dan dirinya kini hanya menjadi sebuah hubungan kakak kelas dengan adik kelas semata. Terlalu sakit bila aku harus mengingatnya. Dan, kini aku mempunyai banyak cerita di kelas 11 ku.
Berawal dari sebuah pelajaran di sekolah. Yang menurutku itu hanya pelajaran tidak begitu penting. Teknologi Informasi dan Komunikasi, biasanya anak-anak menyebutnya pelajaran TIK. Guru yang mengajar sekarang adalah Mas Tria. Dia nggak mau kalau dipanggil Pak. Berbeda dengan guru TIK yang bernama Mas Reza. Awalnya aku biasa saja karena memang tidak ada masalah apa-apa. Pertama kali guru itu masuk kelas dan memperkenalkan dirinya, semua anak di kelas berisik. Mereka sedang menggosipi guru itu. Ada yang bilang sok cool, suaranya cempreng, kalau jalan kayak bebek, bla bla bla. Aku tidak mempedulikannya.
Sampai suatu ketika, mas itu mau nyetelin anak-anak film horor. Semua anak cewek takut, begitupun juga aku. Dia malah teriak-teriak nyuruh anak-anak biar nggak berisik. Salah dia sendiri ngapain nyetelin film horor. Satu minggu kemudian, dia masuk ke kelas sambil bawa pocky, sejenis biskuit aneka rasa yang enak banget. Aku yang pertama minta, dan aku ambil 2 batang. Temen-temen yang lain juga pada minta semua, sampai masnya itu teriak-teriak soalnya pockynya habis. Malemnya, dia buat status facebook yang bilang kalau aku yang ngabisin semua pockynya, padahal aku cuma minta 4 batang aja.
Mulai sejak itu, aku sering wall-wallan sama dia. chatting ym. Dan anak-anak nggosipin aku sama mas TIK itu. Ternyata nggak seburuk yang aku kira. Dia baik banget kok. Juga dia nggak pelit kalau ngasih ilmu. Mulai dari situ, aku sama dia chatting-chattingan di YM. sampai jam 12 malem gitu kalau lagi chatt sama dia. Ngomongin apa saja yang asik dan nggak bosen. Aku ketawa-tawa sendiri. Sampai akhirnya, kita sms-an. Dia pernah bilang kalau dia dimarahin ibunya gara-gara ketawa-tawa sensidi liat layar notebooknya. Lucunya. 
Di sekolah, anak-anak pada heboh sendiri nggosipin aku dan mas TIK itu. Padahal jelas tidak ada apa-apa. Hanya sebatas teman. Tapi, seiringnya waktu, lama-lama kita mulai deket, dan dalam satu suasana ada sebuah peristiwa. 
Saat itu, dia mengajakku pergi ke Dapur Cokelat dan Ladang Coffee. Kita ngobrol panjang lebar, ketawa-ketiwi kayak orang tolol. Seneng juga rasanya. Hari itu tanggal 29 Oktober 2010. Dia bilang sesuatu ke telingaku. Pelan. Dalem. Dan pakai bahasa Inggris. Dia bilang," Whould you going out with me?" Tapi, tanggapanku cuma "Oh..." hahahahaha.... Bodohnya aku saat itu. Aku juga bilang, " Aku nggak tau mau jawab apa mas. Aku jawab besok aja ya."
Akhirnya kami balik sore harinya. Aku cuma bisa senyam-senyum inget kata-kata dia. Biasanya kalau ada orang yang menyatakan ... cuma bilang"Mau nggak jadi pacarku?" Tapi aku baru tahu, kenapa dia nggak mau pakai kata=kata seperti itu. Karena baginya, pacar itu seperti barang. Yang bisa dibawa kemana-mana. Aku tersentuh banget sama penjelasan itu.
Keesokkan harinya, tanggal 30 Oktober 2010. Aku ketemuan dengannya di sekolah. Aku deg-degan. Aku suruh dia buat ulangi lagi kata-katanya kemarin. Dan aku jawab,"Enggak mas." lama sampai aku teruskan ucapanku." Enggak mas. Aku enggak nolak jalan sama kamu."
Dia cuma senyum dan aku juga cuma senyum aja. 
Hari demi hari terus berlalu, dan aku mulai tahu dirinya sedikit demi sedikit. Yang aku tahu, dia itu akan melakukan apa saja untuk orang yang dicintainya. Tapi dia itu suka marah-marah. Cerewet. Tapi nggak pengaruh juga. Aku kini bisa menjadi seorang murid, adik, seseorang spesial, dan teman buat dia.
Aku belajar dari dia banyak hal. Tentang hidup, pelajaran sekolah, dan banyak lagi. 
Aku tidak peduli dengan pendapat orang yang bilang kalau aku cuma manfaatin guruku jadi pacarku demi nilai belaka. Toh, itu semua hanya bisikan setan. 
Aku menyukainya, ya hanya menyukainya.
Karena baginya, suka itu lebih tinggi daripada sayang dan cinta.
Kini, biarkan waktu yang akan memutuskan kemana akhir dari cerita murid dan guru ini.
Sebetulnya, kisah ini adalah kisah nyata.
Dari seorang murid dan seorang guru.
Murid itu adalah AKU.

Sabtu, 02 Oktober 2010

Bayangan

Hoamm........
Aku terbangun dari tidur panjangku. Hari ini hari libur, dan aku malas untuk beranjak dari kasur. Dan, " Liaaa..., ayo cepetan bangun. Sudah jam berapa ini." mama berkata. Ah, malas sekali aku. EWntah mengapa, badanku remuk semua. Seperti terjun dari ketinggian 1000 meter. Sial!! Tepat pukul 08.00 aku segera mandi. Matahari itu menyengat hebat." Auuww...." Aku menginjak sesuatu. Ternyata sebuah jarum yang jatuh kemarin malam, belum sempat aku ambil. Bertambah pula kesialanku pagi ini.
 Sekolah, hari Sabtu gini juga masi harus ke sekolah. Nggak penting banget. "Aduh.., Udah jam berapa ini, kamu baru dateng??" ucap seorang temanku yang bawel. Dia bernama Siska. Cewek cantik blasteran sunda itu adalah sahabatku. "Iya iya maaf. Aku kemarin abis lembur ngerjain tugas hari ini.Yaudah yuk masuk aja ke dalem. Kali aja ada mas-mas ganteng yang bisa dikecengin." Dengan sekejap saja aku bisa melihat ada banyak orang yang berada di dalam sekolah. "Hari libur gini kok sukanya masuk sekolah"gerutuku.
Aku baru menyadari jika ternyata Siska tidak mengikutiku. "Sial, kemana sih dia. Udah disuruh dateng pagi begini, eh dianya malah keluyuran nggak jelas. Basi." gumamku. Entah mengapa aku merasa bad feeling hari ini. Ingin marah terus kerjaannya. Mau dapet kali ya. Ya sudahlah, aku ke kelas saja dulu mungkin sudah ada Tomas dan Kevin di sana. Di perjalananku yang seperti hari biasa, aku melihat ada keganjilan di balik pintu itu. Benar. Aku melihat sepasang bola mata coklat itu lagi. Terakhir kali aku melihatnya satu minggu yang lalu. Dan ternyata Tuhan mendengar doaku. Aku rindu sekali melihatnya dengan kacamata tipisnya itu. "Hei... bicara dengan siapa kau , Dona? tanya Kevin yang sedang melihat ke arahku. "Oh oh oh ... Ehmm... Tidak. Aku tidak melihat siapa-siapa. Eh maksudku aku tidak sedang bicara dengan siapa-siapa. Kau saja mungkin yang salah penglihatan." bohongku tak keruan. 

Lho lho lho ... kemana perginya? Ah sial lagi, aku kehilangan jejaknya. "Don, tadi kamu lihat Siska nggak? Aku sudah meneleponnya tapi tidak ada jawaban." tanya Kevin. "Em... Aku juga nggak tau. Aku kira dia sudah di sini. Habisnya dia ngilang gitu aja tadi nggak nunggu aku." "Emangnya kenapa sih? tanyaku dengan penasaran. "Eh anu.. ehm.. nggak papa kok. Cuma kok nggak ada suara cemprengnya aja. Jadi garing." jawabnya. "Hahahahahhaa..... Apa kau suka dia? Sudahlah jangan bohong, aku tau kau menykainya sejak pertama masuk sekolah." sok tauku. Kevin tampak bingung kelimpungan menjawab bertubi-tubi pertanyaanku. Ah, masa bodoh. Yang penting sekarang, aku harus menemukan si kacamata itu. "Dimana ya dia?" "Apa? Dia siapa maksudmu?" Kevin menjawab tanpa ku minta. "Oh.. maksudku Siska. Dimana ya dia." ngelesku.
Setengah jam kemudian, barulah si cempreng itu datang tanpa diundang. "Haloo semuanya. Maaf ya, tadi aku ditelepon mama. Aku disuruh nemenin sebentar ke rumah tante. Maaf ya sudah buat kalian menunggu." jelas Siska. "Alah. Basi loe. Kita udah garing kering kerontang nunnguin loe nggak balik-balik. Kita cemas tau nggak sih Sis." sewotku. "Sudah sudah. Jangan beranterm gitu deh. Cepetan ngerjain keburu siang." potong Tomas yang sedari tadi diam.
Akhirnya kami semua ngerjain tugas sampai sore. Dan, aku melihatnya. Sekelebat bayangan yang berada di lorong itu. Aku penasaran dan menghampiri.  "Hei, sedang apa kau di sini?" tanyaku yang penasaran. "Eh.. anu ehm.. Saya lagi melihat burung kecil itu. Tadi jatuh dan sayapnya patah." jawabnya gelagapan. Aku tidak mngerti dengan apa yang sedang dilihtanya. Tapi jawabannya itu membuat aku kagum. Sebegitu kasihannya dia melihat burung kecil yang sayapnya patah. Aku ttak akan sebegitunya. "Oh.. oke. Maaf mengganggu. Aku Lia. Anak XI-1. Kalau kamu? Aku jarang melihatmu?" tanyaku penuh dengan semangat. " Saya Faldy. Anak XII-3. Saya memang tidak suka muncul di lingkungan sekolah baru saya." jawabnya datar.
Aku mengamatinya. Dia begitu sempuna. Matanya yang dalam, hidungnya yang mancung, parasnya yang ganteng, bibirnya yang kecil, senyumnya yang memnuatku meleleh. Dan kesimpulannya adalah AKU SUKA DIA.....
Di kelas.
"Kemana sih anak itu? Tadi katanya mau pipis, tapi kok lama banget!" keluh Siska.
"Iya nih. Kemana ya anak itu? sambung Kevin.
"Eh, hai.. Maaf ya lama. Tadi aku habis ketemu orang. Jadi aku ngobrol-ngobrol dulu." sapaku.
"Emang, siapa Li? Kok kamu kelihatan happy banget? Hayo?? potong Siska.
"Ada deh. Mau tau aja kamu." selaku.

Hari ini capek juga ya. Nggak di sekolah, di rumah. Sama saja. Tapi, aku senang banget. Ternyata namanya Faldy. Cowok yang aku kira makhluk halus itu bernama Faldy. Semoga besok aku bertemu lagi dengannya. Dan semoga juga, dia mengingatku.
Malam ini aku ingin memimpikannya. "Oh.. Pangeran berkuda putihku. Hahahaha...." andaianku.

"Aww... Ada apaan sih mbak? Ternyata yang datang adalah kakakku. "Nggak papa. Kamu aneh saja." gumamnya tidak jelas. "Geje tau nggak sih. Orang lagi seneng kok nggak boleh." cuekku.










Jumat, 01 Oktober 2010

kisah ku..

Seindah hari ini kujalani. Disertai canda tawa kawan kawan. Hari ini begitu berwarna dan  tak satu pun bisa membuatku berhenti tertawa. Kawan, apakah kau tau, mengapa ada beribu kilauan cahaya yang menyinari seluruh jagat raya ini? Ya, karena adanya engkau yang selalu ada menemani. Tak pernah jenuh aku melewati hari ini. Hingga saat yang membuat debar jalntungku itu menjadi tak keruan.Ketika aku telah beranjak dewasa. Di awal perjumpaanku dengan sekolah luar biasa hebat. Dengan semua penghuni yang membuat aku bekerja keras sepanjang waktu. Aku juga tak mengerti bagaimana untuk bisa seperti mereka. Aku hanyalah aku. Dan hanya seperti ini saja yang bisa aku lakukan. 
Namun, sesuatu hal yang magis itu muncul. Saat aku tak bisa memungkiri telah banyak orang yang juga pernah merasakan hal itu. Perasaan itu adalah ketika aku merasakan jatuh cinta. Saat aku bertarung dengan hati untuk tidak merebut dia dari sahabatku. Tapi justru aku yang membuatnya sakit hati. Menganiaya diri sendiri. Seperti itulah aku saat itu. Yang hanya bisa melamun bingung tak menentu, hingga akhirnya kawanku lah yang mengalah. Semua karena ada rasa itu.
Aku dihadapkan oleh pilihan. Yang sebenarnya saat itu aku belum tau siapa jati diri mereka. Terlalu lama aku menunggu waktu yang tepat, hingga saat yang membuatku hina ini keluar. Muncul dan aku tak bisa berbuat apa-apa. Dia yang seorang laki-laki itu adalah seniorku. Saat itu yang aku tau dia hanya seorang yang lucu, perhatin, konyol, dan urakan. Hingga membuat kawanku terlena oleh karismanya.
Beberapa lama dia mendekatiku dengan seribu SMSnya. Dan aku menyadari dia seorang yang sayang . Ketika aku menyadari adanya rasa itu datang, aku tak menolaknya. Begitu pula saat dia menyatakan rasa yang telah dipendamnya dulu. Jauh sebelum aku tau dia yang mendekatiku.


Beberapa bulan aku jalani , dan akhirnya aku tau Bukan diri dia yang sebenarnya aku tau dulu. Aku tak pernah mengerti apa yang dia pikirkan hingga saat ini. Aku pun juga tak ingin tau, apa yang senenarnya dia rasakan saat ini. Setelah semuanya berakhir. Aku menangis tersedu-sedu. Bodohnya aku ini. Yang seharusnya aku tau dari sebuah pengalaman ini adalah " Mengenal seseorang yang akan menjadi teman terdekat kita, harus dengan waktu yang cukup lama. Hingga kita tau jati dirinya di hadapan kita. "