Hari itu, tanggal 17 Mei 2011. Aku seperti tak punya beban hidup. Terlalu santai aku menapakkan kakiku di teras rumah. Tak ada seorang pun yang ada ketika aku sedang sendiri. Malam itu, tak pernah terlintas di fikiranku akan terjadi sesuatu hal terhadap orang tuaku. Ketika mereka sampai di rumah, dengan acuhnya aku tak peduli dan kembali ke kamar. Ibuku datang, masuk dan membuka pintu kamar, lalu berkata," Tadi mobilnya kecelakaan di Krian." Bagaikan mendengar suara bom di telingaku. Aku linglung. Kok jadi begini. Dengan sekasama, aku mendengar cerita ibuku. Lalu beliau keluar kamar, meninggalkan aku sendiri dengan beribu-ribu tanda tanya.
Dan malam pun menjadi semakin larut, bukan oleh sinaran bulan di kala itu, tapi oleh tangisan yang membuat hati ini rintih. Aku membayangkan bila tiba-tiba dan tanpa adanya sebuah mimpi, aku harus kehilangan kedua orang tuaku. Apa jadinya aku bila semua ini harus berakhir. Aku lantas berfikir, sudah sejauh apa yang telah aku beri untuk mereka. Sebuah kebanggaan kah?? Itu masih menjadi satu mimpi yang belum terwujudkan.
Belum juga rasa itu hilang, keesokan paginya, yakni tanggal 18 Mei 2011 di sekolah..
Aku belum siap 1 bahan pun untuk ku jadikan pegangan diri ketika suara bel itu telah berbunyi. Datanglah seorang guru yang sangat menakutkanku. Mungkin bukan cuma aku, tapi selauruh penjuru kelas ini. Dengan tergopoh-gopoh aku menyiapkan segala keperluan untuk ujian. Hari itu adalah ulangan biologi. Ya, kau benar. Pelajaran yang harus bisa ku pelajari dengan matang bila impian itu ingin ku wujudkan. Dokter. Ap harus menjadi dokter?? Aku pun tak tau harus menjadi apa bila aku tidak menjadi seorang dokter.
Pagi yang menenangkan, sebelum saat itu tiba.
Ibu guru itu datang menghampiriku, membentakku dengan seribu nyawa setan. Aku mendadak bingung. Aku benar-benar ceroboh. Saat hari tenang itu, aku melihat selembar kertas yang bertuliskan nama-nama penyakit akibat merokok. Aku gagap seketika.
Beliau menyuruhku ke depan, memarahiku dengan segala apa yang dia bisa keluarkan. Aku takut Tuhan. Aku bingung. Aku hanya bisa terdiam. Ingin menangis pun tak bisa ku lakukan. Dengan semua yang ada di kepalau, aku berjuang untuk bisa melanjutkan ujian saat itu. Namun, sanksi yang diberika adalah membuat semua nilai ulanganku jeblok.
Bagaimana ini??? Aku salah. Aku bodoh. Aku idiot. Aku ceroboh. Aku... aku hanya bisa mengerjakan di sisa-sisa akhir waktuku.
Ibu, ayah, bila hal ini akan membuat mu bersedih, maafkanlah anakmu.
Bila aku tak bisa menjadi seorang yang engkau banggakan, maafkanlah aku.
Waktu yang terus berjalan, seolah tidak ada guna. Aku hanya bisa terdiam seperti manusia tanpa daya dan nyawa. Aku malu untuk menangis. Aku malu untuk bisa melihat teman-temanku.
Dan, akhirnya bendungan ini jedol.
Aku menangis ketika aku bilang kapada seorang temanku," Aku.. aku udah nggak ingin jadi dokter Fit." dan dia pun bertanya," Lho kenapa? udah lah Li, ngak usah difikirin. Ibunya kan emang gitu. Kamu nggak liat Fida, Mirza yang dulu juga digituin." ucapnya sambil menenangkanku.
Tapi, bukan ucapan yang keluar dari mulutku, namun air mata yang seolah tak bisa lagi terbendung di mataku. Aku bodoh. Aku sangat menyesal Tuhan. Aku nggak sanggup bila harus menerima hasil itu dengan sebuah nilai 0 di rapotku. Apa yang harus aku jelaskan nanti pada mereka???
Apaaaaa????
Hanya sebuah lagu lama, meminta maaf begitukah??
Akhirnya, aku berfikir untuk mengakhiri hidup ini. Mungkin, dengan aku bisa mati, aku tidak harus mengerjakan PR, tidak harus bertemu dengan guru-guru killer, tidak akan dimara bila aku salah, tidak akan merasa kecewa bila ada orang yang kecewa padaku.
Tapi, kenapa aku nggak boleh?????
kenapa semua itu DOSA???
Kenapa Tuhan???
Bila aku bisa memutar kembali waktu, aku pasti akan merubah keadaan ini.
Tapi aku bukan seorang yang berarti apa-apa.
Aku hanya manusia yang berlumur dosaaa...
Mengapa Engkau mengirimkan beribu-ribu orang yang menyanyangiku???
Aku nggak ingin melihat mereka menangis.
Aku sangat menyesal ya ALLAH.........
Apa yang harus aku lakukan?
Menyakiti diriku sendiri dengan tidak makan seharian?
Tidak akan membuatku mati.
Aku hanya ingin semua ini bisa kembali seperti dulu.
Saat aku masih belum bisa membaca.
Saat aku masih belum bisa menulis.
Saat aku belum bisa bercita-cia menjadi seorang dokter.
YA ALLAH, aku tak bisa menceritakan semua ini pada orang tuaku.
Aku terlalu takut untuk itu.
Ya Allah, berilah 1 keajaiban agar Kau bisa membuat ibu guru ku memaafkanku.
Aku hanya ingin itu.
Aku hanya ingin itu.
nice sad story :)
BalasHapus