Aku bukan orang yang istimewa. juga bukan pula orang yang menarik. Aku mulai mengenalnya dua tahun yang lalu. Disaat aku belum mengenal orang yang kini disampingku. Ku panggil dia dengan sebutan "Mas" karena dia kakak kelasku. Pertama kali aku melihatnya, tak ada satu pun ketertarikan diriku padanya. Aku hanya menganggapnya kakak kelasku. Aku memang dikenal oleh mereka semua karena aku ini orang yang cerewet dan aktif. sebut saja dia "FB". Aku tidak tahu apapun tentang dirinya, kehidupannya, perilakunya, dan tentang percintaanya. Namun yang aku saat itu adalah dia orang yang dewasa, bijaksana, dan kebapak-bapakan. Karena saat itu aku sedang jatuh cinta pada temannya, bukan padanya.
Bergulirnya waktu, tak terasa kini aku sudah berada di puncak SMA. Dan sudah tak nampak lagi batang hidungnya dan teman-temannya. Namun bukan diriku bila aku tidak menghubungi mereka. Hanya sekedar untuk bertanya,"Apakah kalian punya buku ini itu, bla bla bla?" Dan pesan itu juga aku kirim kepadanya. Tak lama berselang, dia membalasnya," Wah sori dek aku gak punya." Kecewa deh aku sama balasan mereka semua. Dasar kakak kelas yang tidak memberi contoh baik.
Keesokan harinya, secara tiba-tiba dia sms, bilang ," Kamu mau ta buku soal-soal SNMPTN?" Dengan senang hati aku menerimanya. Dan mulailah saat itu kami berkiriman sms. Lama berselang, hari yang ku tunggu datang. Hari dimana aku ketemu dia dan dia ngasih buku itu ke aku. Bulan puasa yang panas. Saat itu aku di SSC. N=Entah kenapa rasanya hatiku cenat-cenut. Resah dan nervous. Tolol. Sangat-sangat tolol. Ada apa ini... Kenapa aku jadi seperti ini?? Bertanya-tanya pada hati yang tak menentu malah membuatku kerkeringat dingin. Namun, apa yang aku dapatkan, dia lupa. Dia nggak datang. Dia membuatku kecewa, marah, dsb. Andai dia tau, aku berdandan cantik hari itu. Aku ingin bisa bertemu dengannya. Yang entah kenapa seperti ada rasa. Aku marah-marah. Aku sebel banget. Menunggu 1 jam itu sudah amat sangat membosankan bagiku. Tuhan, kalau saja ini bukan bulan puasa, sudah habis dia ditanganku. hahahahaha bercanda.
Dia meminta maaf padaku. Tadinya nggak mau maafin, tapi melihat dia benar-benar menyesal, jadi dimaafin deh. Dan, semuanya berlanjut....
Beberapa hari sebelum buber generasi, aku mengirim SMS untuknya, hanya untuk menanyakan apa dia datang atau tidak. Beruntungnya dia datang. Aku juga ingin datang tapi saat itu aku bingung harus naik apa. Aku bertanya padanya, namun dia hanya menjawab enteng dan bercanda. Aku sedang serius, apa kau tidak melihatnya... Kesal dalam hati. Dan akhirnya aku memutuskan untuk datang bersama temanku, Edo. Tanpa disangka-sangka ketika ada sebuah pembicaraan yang rahasia, membawaku pada dunia imajinasiku terdahulu. Saat aku ingin sekali bisa naik mobilnya dan melihat apa-apa di dalam mobilnya. Sungguh mengasikkan bukan kalu itu terjadi. Dan, semua menjadi nyata saat dia memberikan tumpangan itu ke aku. Hem.... Kenapa nggak daritadi sih mas bilangnya?? Runtukku dalam hati. Tapi nggak papa deh, yang penting aku bisa ngeliat wajahnya yang sudah lama aku bayangkan seperti apa dia sekarang. Ternyata sama saja. hahaha tolol, idiot, begok.
Di hari H, dia bingung dimana rumahku. Ah.. begok. Aku ini sudah merepotkan orang, juga membuat bingung pisan. ckckck... Akhirnya kita janjian untuk bertemu di depan gang saja. Lho, kok nomor platnya sudah ganti? bener gak ya ini mobilnya. nanti malah salah masuk, berabe atuuh. Aku mikir dalam hati. Eh ternyata bener itu dia. Dan dia juga menepati janjinya memakai baju pink. lebih tepatnya kemeja pink. Ah unyu banget. ahahahha...
Dingin, dingin sekali AC di dalam mobilnya. Membuatku ingin mengambil selimut lalu tidur. Di dalam mobilnya hanya ada aku dan dia. Tidak. Tuhan, tolong jangan sampai dia mendengar degup jantungku. Aku harus apa. Aku takut salah tingkah. Dan akhirnya aku mengambil jalan diam dan melihat jalan saja. Tuhan, apa dia juga merasa seperti itu? Apa hanya aku saja yang ge-er?? Semakin dingin saja AC ini. Untuk mencairkannya, aku berbasa-basi tidak jelas. Kenapa dia begitu berbeda saat aku lebih dekat dengannya sekarang??? Aku bingung. Aku takut salah jalan.
Aku mencuri-curi pandang ke arahnya. Hanya untuk melihat dia. Kok jadi gini ya... Haduh pipiku merah merona. Kenapa aku jadi salah tingkah tiap dia liat aku??? Tidaaaakkk.....
Dan kami pun sampai di tempat tujuan. Dia takut kalau nanti teman-temannya melihat kita berdua. Jadi, aku berjalan mendahuluinya dan berpura-pura tidak datang bersamanya. Dia begitu asik dengan teman-temannya, dan sekali lagi, aku melihat ke arahnya. Senyum-senyum sendiri aja deh. Aku nggak kuat lagi. Ada apa ini...
Hari telah malam, dan jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, saatnya pulang. Kembali lagi kami berpura-pura tidak mertegur sapa. Ah.. kenapa haruus seperti ini sih? Kenapa gak biasa aja. Biarin aja mereka tau. nggak akan mengubah apapun juga. Pikirku dalam hati. Tapi ya sudahlah, aku bukan siapa-siapa. Kepala pening dan rasa kantukpun mulai datang. Aku tertidur sebentar. Aku tidak tau apa dia memerhatikanku atau tidak. Aku lelah. Dan, ketika perjalanan baru menginjak setengahnya, dia mulai bertanya tentang rahasi aitu. Perbincangan rahasia dan aku pun juga bertanya tentang rahasia itu. Apa alasannya? Kenapa harus aku? ini itu semuanya. Dan, pengalaman itupun terjadi.
Ruangan dingin itu pun menjadi hangat seketika.
Aku bingung. Aku benar-benar bingung.
Apakah aku suka padanya? Atau bahkan lebih?
Dan aku mengetahui jawabannya beberapa hari kemudian. Dan, seketika itu aku lemas, tak berdaya. Tuhan, seperti inikah patah hati? Sakit sekali. Menangispun tidak akan berhenti begitu saja. Kenapa aku punya rasa seperti ini ketika aku sudah punya seseorang? Dan kenapa dia tega bilang seperti itu juga ke aku? Jahaaatt.
Aku selalu berharap semua ini bisa berakhir dengan happy ending. Tapi aku mungkin hanya bermimpi.
Tuhan, beritau dia, kalau aku punya rasa itu. Kenapa dia bilang tidak??
Mungkin ini semua salah.