Kenalin, namaku Insasti dan kini aku sedang duduk di kelas 11 sebuah SMA negeri favorit di Surabaya. Kehadiranku yang baru memasuki awal pelajaran baru ini membuatku sedikit cemas. Karena aku masih merasakan sakitnya putus cinta. Sebelum ini, aku memiliki sebuah kisah tragis yang memilukan. Karena akulah yang berada dalam kisah itu. Namun kini, aku melupakannya. Aku berusaha bangkit dan bersikap biasa saja dengan dirinya. Aku dan dirinya kini hanya menjadi sebuah hubungan kakak kelas dengan adik kelas semata. Terlalu sakit bila aku harus mengingatnya. Dan, kini aku mempunyai banyak cerita di kelas 11 ku.
Berawal dari sebuah pelajaran di sekolah. Yang menurutku itu hanya pelajaran tidak begitu penting. Teknologi Informasi dan Komunikasi, biasanya anak-anak menyebutnya pelajaran TIK. Guru yang mengajar sekarang adalah Mas Tria. Dia nggak mau kalau dipanggil Pak. Berbeda dengan guru TIK yang bernama Mas Reza. Awalnya aku biasa saja karena memang tidak ada masalah apa-apa. Pertama kali guru itu masuk kelas dan memperkenalkan dirinya, semua anak di kelas berisik. Mereka sedang menggosipi guru itu. Ada yang bilang sok cool, suaranya cempreng, kalau jalan kayak bebek, bla bla bla. Aku tidak mempedulikannya.
Sampai suatu ketika, mas itu mau nyetelin anak-anak film horor. Semua anak cewek takut, begitupun juga aku. Dia malah teriak-teriak nyuruh anak-anak biar nggak berisik. Salah dia sendiri ngapain nyetelin film horor. Satu minggu kemudian, dia masuk ke kelas sambil bawa pocky, sejenis biskuit aneka rasa yang enak banget. Aku yang pertama minta, dan aku ambil 2 batang. Temen-temen yang lain juga pada minta semua, sampai masnya itu teriak-teriak soalnya pockynya habis. Malemnya, dia buat status facebook yang bilang kalau aku yang ngabisin semua pockynya, padahal aku cuma minta 4 batang aja.
Mulai sejak itu, aku sering wall-wallan sama dia. chatting ym. Dan anak-anak nggosipin aku sama mas TIK itu. Ternyata nggak seburuk yang aku kira. Dia baik banget kok. Juga dia nggak pelit kalau ngasih ilmu. Mulai dari situ, aku sama dia chatting-chattingan di YM. sampai jam 12 malem gitu kalau lagi chatt sama dia. Ngomongin apa saja yang asik dan nggak bosen. Aku ketawa-tawa sendiri. Sampai akhirnya, kita sms-an. Dia pernah bilang kalau dia dimarahin ibunya gara-gara ketawa-tawa sensidi liat layar notebooknya. Lucunya.
Di sekolah, anak-anak pada heboh sendiri nggosipin aku dan mas TIK itu. Padahal jelas tidak ada apa-apa. Hanya sebatas teman. Tapi, seiringnya waktu, lama-lama kita mulai deket, dan dalam satu suasana ada sebuah peristiwa.
Saat itu, dia mengajakku pergi ke Dapur Cokelat dan Ladang Coffee. Kita ngobrol panjang lebar, ketawa-ketiwi kayak orang tolol. Seneng juga rasanya. Hari itu tanggal 29 Oktober 2010. Dia bilang sesuatu ke telingaku. Pelan. Dalem. Dan pakai bahasa Inggris. Dia bilang," Whould you going out with me?" Tapi, tanggapanku cuma "Oh..." hahahahaha.... Bodohnya aku saat itu. Aku juga bilang, " Aku nggak tau mau jawab apa mas. Aku jawab besok aja ya."
Akhirnya kami balik sore harinya. Aku cuma bisa senyam-senyum inget kata-kata dia. Biasanya kalau ada orang yang menyatakan ... cuma bilang"Mau nggak jadi pacarku?" Tapi aku baru tahu, kenapa dia nggak mau pakai kata=kata seperti itu. Karena baginya, pacar itu seperti barang. Yang bisa dibawa kemana-mana. Aku tersentuh banget sama penjelasan itu.
Keesokkan harinya, tanggal 30 Oktober 2010. Aku ketemuan dengannya di sekolah. Aku deg-degan. Aku suruh dia buat ulangi lagi kata-katanya kemarin. Dan aku jawab,"Enggak mas." lama sampai aku teruskan ucapanku." Enggak mas. Aku enggak nolak jalan sama kamu."
Dia cuma senyum dan aku juga cuma senyum aja.
Hari demi hari terus berlalu, dan aku mulai tahu dirinya sedikit demi sedikit. Yang aku tahu, dia itu akan melakukan apa saja untuk orang yang dicintainya. Tapi dia itu suka marah-marah. Cerewet. Tapi nggak pengaruh juga. Aku kini bisa menjadi seorang murid, adik, seseorang spesial, dan teman buat dia.
Aku belajar dari dia banyak hal. Tentang hidup, pelajaran sekolah, dan banyak lagi.
Aku tidak peduli dengan pendapat orang yang bilang kalau aku cuma manfaatin guruku jadi pacarku demi nilai belaka. Toh, itu semua hanya bisikan setan.
Aku menyukainya, ya hanya menyukainya.
Karena baginya, suka itu lebih tinggi daripada sayang dan cinta.
Kini, biarkan waktu yang akan memutuskan kemana akhir dari cerita murid dan guru ini.
Sebetulnya, kisah ini adalah kisah nyata.
Dari seorang murid dan seorang guru.
Murid itu adalah AKU.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar